7 January 2012

Internet Yang Bukan Internet

Akhir-akhir ini kita melihat banyak sekali iklan lucu di TV dari para pelaku operator seluler. Kalau diperhatikan, ada yang berbeda dari iklan tersebut dibandingkan dengan 2-3 tahun yang lalu. Kalimat sakti "gratis" bertambah dari dua menjadi tiga. Jika dulu mereka cuma berkoar "telepon gratis" terus "sms gratis", sekarang nambah satu: "internet gratis".

Memang saat ini perang tarif di ketiga wilayah itu sedang sengit, terutama untuk jalur data. Ada yang unlimited, unlimited jadi-jadian dan limited quota. Dua yang pertama dan yang terakhir sudah jelas di mata pengguna. Sudah jelas bahwa dengan unlimited kita boleh menggunakan data tanpa pikir tetapi pusing ketika pakai kuota. Sudah jelas juga bahwa harga yang kuota beda-beda tipis dengan uang makan satu bulan sementara untuk yang unlimited beneran jual rumah pun paling-paling dapat bayar selama 1.5 tahun.

Yang menjadi fokus kali ini adalah unlimited jadi-jadian. Memang betul dari jeritan operator bahwa ini unlimit dengan harga yang lebih murah. Yang menjadi pertanyaan, apakah pantas disebut internet? Secara teori, ya, karena anda sudah bisa ping ke google - itu juga nilai TTL-nya sudah bisa buat beli permen kalau diuangkan. Permasalahannya adalah, masih ada pengguna yang tidak tahu aturan terselubung di dalamnya.

Ada satu benda mengerikan dalam perihal layanan tersebut, fair usage. Anda bisa cari banyak artinya, tapi yang benar cuma satu:
Fair usage adalah nilai kuota lalu lintas data (up+down) yang ditujukan untuk mengatur lamanya pemakai menggunakan jalur, tingkah laku pemakai, emosi pemakai serta secara langsung jiwa dan budaya dari pemakai agar memperlakukan bandwidth sebagai sumber daya mahal, terbatas namun tetap harus dimaklumi keberadaannya.
sumber: ikanpedang

Secara singkat:
  • Lama pakai. Jelas, karena lewati kuota kecepatan akses akan turun menjadi serendah mungkin (kalau tidak mau dibilang sehina mungkin) sehingga walaupun masih terkoneksi, tidak pantas untuk disebut internet.
  • Tingkah laku. Karena dalam pemakaian pengguna selalu ditentukan ukuran data yang pantas mereka gunakan, beberapa dari mereka ada yang mengganggap internet cepat sebagai benda pusaka dan keramat. Secara keseluruhan, mirip laron lihat bohlam.
  • Emosi. Ketika dikasih link video youtube, atau file di atas 100MB saat kuota sudah habis, antara pemakai ada yang senyum-senyum stres, merontah-rontah, marah-marah, tersinggung bahkan histeris.
  • Jiwa. Sama seperti poin emosi. Dalam jangka panjang bisa menyebabkan stres lalu melempar laptop keluar jendela seperti yang diajarkan TV.
  • Budaya. Sama seperti tingkah laku. Kelamaan wanita akan memasukan kriteria kecepatan internet dalam memilih suami. Belum lagi aksi nyolong koneksi yang juga marak.
  • Harus dimaklumi. Pemegang kuasa atas ini, "menteri komputer", pernah mengeluh tingginya penggunaan data oleh penduduk Indonesia dan sering melebihi fair usage ini. Jelas tampak bahwa seakan-akan menggunakan internet secara bebas (diluar fair usage) adalah salah. Seakan-akan pemakai telah ditetapkan haknya (dalam satuan bit). Apakah hal seperti ini pantas dikeluhkan, mengingat di saat ini orang tidak lagi chatting pakai IRC atau browse web HTML kuno? Keluhan yang sama juga dilontarkan petinggi dari salah satu perusahaan operator.
Kira-kira sampai di sini opini yang halus ini. Jika ada pihak yang tersinggung, berarti anda belum melakukan tugas anda. Semoga tidak hanya menjadi cambukan untuk maju, tetapi juga luka sayat yang perih diberi garam tanpa yodium, jeruk limo muda, dan cuka mendidih, agar terus maju.

Ref: Chip magazine 01/2012.

2 comments:

  1. Betul!! Saya setuju, Internetan unlimited tanpa kuota adalah hak semua rakyat!! Selama ini jika ingin mendapatkan internet unlimited "beneran" sangatlah mahal. Sehingga mau ga mau harus menggunakan yang unlimited "jadi-jadian" dimana kalau mau ngirim file dengan ukuran minimal 100MB aja masih sempat untuk nonton film di TV sampai selesai.. (hosh, hosh, curhat sambil emosi)

    ReplyDelete
  2. Emosinya jadiin tulisan juga sekalian :)

    ReplyDelete