Film WALL-E menceritakan mengenai sebuah robot pembersih sampah bernama Wall-E yang ditugaskan untuk membersihkan sampah yang mencemari bumi. Pada suatu saat robot tersebut bertemu EVE dan jatuh cinta kepadanya. Wall-E juga berkesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan manusia yang telah menciptakan Eve dan dirinya.
Di sini robot (tokoh Wall-E) diceritakan telah memiliki teknologi yang membuatnya dapat mengambil keputusan sendiri, menganalisa secara mandiri hingga mengiolah data yang berhubungan dengan perasaan dan ketertarikan. Interaksi sesama robotnya dengan Eve menggambarkan bagaimana sebuah robot merespon objek lain, menganalisa sifat dan kelakuan objek dan menentukan apa yang harus dia lakukan terhadap objek tersebut. Disini perasaan cinta si robot berhasil diterjemahkan dalam satuan digital yang dapat diolah dan diproses. Teknologi ini dirasa mustahil untuk diterapkan dengan nyata mengingat perasaan itu sendiri bukan merupakan besaran fisis atau analog serta tidak ada hubungan yang jelas bagaimana perasaan bekerja. Menurut saya teknologi ini hampir tidak mungkin untuk diciptakan.
Interaksinya dengan manusia juga sangat baik. Tidak hanya merespon sinyal suara melalui sensornya tapi sudah dapat membedakan kata, menetukan frase dan kalimat dan mengolah artinya. Setelah memahami arti dari suatu kalimat ia juga menentukan balasan yang berhubungan dengan arti, bukan bunyi kalimat (input). Robot saat ini baru dapat menentukan kalimat balasan melalui bunyi dan intonasi pengucapan kata dengan hubungan relasi. Misalnya robot dapat membalas "Apa kabar" dengan "baik" karena kata-kata tersebut sudah didefinisikan bahwa bila ditanya "apa kabar" maka dijawab "baik". Perancang juga mungkin akan menetapkan kemungkinan lain seperti "apa kabarmu" dan lain sebagainya. Robot semacam ini kelak dapat berkomunikasi baik dengan manusia selama kata dan bahasa yang digunakan sudah terintegrasi di dalamnya. Namun sebanyak apa pun kemungkinan yang ditanamkan, robot yang tidak dapat menganalisis arti kalimat dari sebuah percakapan tidak akan pernah bisa menjawab kalimat ambigu seperti "maksudmu?", "setelah itu bagaimana" dan semacamnya. Akan tetapi menurut saya bukan tidak mungkin teknologi ini dapat diciptakan.
No comments:
Post a Comment